Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Ketua MA: Hakim Agung Berkurang, Penanganan Perkara Menurun

Written By bopuluh on Rabu, 13 Maret 2013 | 00.27

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali mengatakan, Mahkamah Agung (MA) kekurangan tenaga hakim agung karena ada yang pensiun, meninggal dunia, dan diberhentikan secara tidak hormat. Hal ini, kata dia, berdampak pada penurunan penanganan perkara oleh MA. 

"Pada Desember 2012 hanya tersisa 44 orang hakim dari normalnya 51 orang hakim dari 60 kursi yang tersedia. Jumlah ini pun belum termasuk para hakim agung yang mengalami halangan sementara, misalnya karena sakit," kata Hatta Ali, saat membacakan laporan tahunan MA tahun 2012, di Ruang Kusumah Atmadja Gedung MA, Jakarta, Rabu (13/3/2013).

Hatta menjelaskan, kondisi tersebut berbeda dengan tahun 2011. Jumlah hakim ketika itu berjumlah 54 orang dengan beban perkara yang sebanding. Berkuranganya tenaga hakim pada 2012 karena tertundanya pengisian posisi hakim agung yang pensiun.

"Pengisian baru terlaksana di awal 2013, yang pada intinya menyebabkan terhambatnya Mahkamah Agung dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara optimal," kata dia.

Ia menambahkan, hal itu mengakibatkan clearance rate atau rasio penyelesaian perkara berupa perbandingan antara jumlah perkara yang masuk dan keluar yang ditangani MA tidak mencapai 100 persen. Hal itu ditambah pula oleh implementasi sistem kamar yang menuntut spesialisasi seorang hakim yang tidak sesederhana sistem lama. Pada sistem lama itu,  majelis yang pensiun bisa diganti hakim anggota dari kamar lainnya.

"Idealnya dalam waktu tertentu clearance rate harus berada diatas 100 persen dalam satu tahun," kata Hatta.

MA, lanjut Hatta, pada 2012 menerima 13.412 perkara. Jumlah ini naik 3,24 persen dari tahun 2011 yang hanya menerima 12.990 perkara. Sementara itu, perkara yang menjadi beban pemeriksaan MA pada tahun 2012 berjumlah 21.107 perkara. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari jumlah sisa tahun lalu dan jumlah perkara yang diterima tahun ini. Jumlah beban ini turun 1,43 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 21.414 perkara.

"Dari sisi produktivitas perhakim agung, penurunan tersebut hanya sebesar 0,03 persen," ujar Hatta.

Editor :

Inggried Dwi Wedhaswary


00.27 | 0 komentar | Read More

Jokowi Yakin Banyak Peluang untuk Melibatkan Swasta

Jokowi Yakin Banyak Peluang untuk Melibatkan Swasta

Penulis : Indra Akuntono | Rabu, 13 Maret 2013 | 14:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyampaikan prediksinya tentang adanya peluang besar untuk menggaet pihak swasta terkait realisasi program Jakarta Coastal Development (JCD).

Hal itu dia sampaikan di depan anggota legislatif, dalam rapat paripurna menjawab pandangan umum fraksi-fraksi tentang Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI 2013-2017, di Gedung DPRD DKI, Rabu (13/3/2013).

Melalui pidatonya, Jokowi menjelaskan bahwa dalam masterplan JCD, selain akan dikaji aspek teknisnya, juga akan ditinjau sudut pandang pembiayaannya. Program JCD akan mengintegrasikan rencana reklamasi pantai utara, rencana pembangunan jaringan jalan tol, rencana angkutan umum massal berbasis rel, reservoir air baku, dan juga rencana pengembangan pelabuhan.

"Sehingga banyak peluang untuk dikembangkan dengan melibatkan partisipasi swasta melalui program public private partnership," kata Jokowi.

Pidato Jokowi itu juga sekaligus menanggapi pertanyaan dari Fraksi Partai Amanat Nasional - Partai Kebangkitan Bangsa tentang Jakarta Coastal Development (JCD) pada rapat paripurna 7 Maret 2013 lalu. Penyusunan masterplan JCD, kata Jokowi, akan merekomendasikan model bisnis yang sesuai untuk dikembangkan melalui program public private partnership, khususnya bagi proyek yang secara finansial layak dikerjasamakan dengan swasta.

Jokowi juga yakin, pembangunan JCD dapat meningkatkan dan memastikan ketersediaan air baku. Selain tentunya melalui penambahan suplai air bersih dari Jatiluhur, pembatasan ekstraksi air tanah dalam melalui pembuatan peraturan mengenai pajak air bawah tanah, meningkatkan kinerja manajemen penyelenggaraan air minum, serta peningkatan ruang terbuka biru.

Berita terkait, baca :

GEBRAKAN JOKOWI-BASUKI

Editor :

Hertanto Soebijoto


00.27 | 0 komentar | Read More

Api Berkobar di Belakang Sekolah St Carolus

Written By bopuluh on Selasa, 12 Maret 2013 | 00.27

Api Berkobar di Belakang Sekolah St Carolus

Penulis : Zico Nurrashid Priharseno | Selasa, 12 Maret 2013 | 14:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Perumahan di belakang sekolah St Carolus, Jalan Salemba Blumtas, Gang 1, dilalap si jago merah. Api mulai membesar pukul 12.45 diduga akibat korsleting.

"Itu rumah yang terbakar. Di belakang sekolah St Carolus. Tadi lagi di dalam kantor, tiba-tiba ada yang teriak kebakaran. Langsung turun, dan di bawah sudah ramai orang berlarian," kata Wency, salah seorang warga, Selasa (12/3/2013).

Sekitar 20-an mobil pemadam kebakaran tiba sekitar 20 menit kemudian. Lokasi kebakaran yang berada di gang kecil membuat pemadam kesulitan untuk menjinakkan api.

Untuk dapat menjangkau titik api, petugas harus memasuki gang kecil yang berada di samping sekolah St Carolus. Sedangkan sejumlah mobil lainnya memadamkan lewat dalam sekolah yang terletak di Jalan Salemba Raya ini.

Pukul 14.00 WIB, api telah padam. Kepulan asap hitam masih terlihat. Warga pun masih terlihat berusaha menyelamatkan harta bendanya. Diduga ada puluhan rumah yang menjadi korban kebakaran tersebut.

Mobil Palang Merah Indonesia (PMI) terlihat bersiaga di sekitar lokasi. Arus lalulintas di Jalan salemba Raya terpantau padat.

Editor :

Ana Shofiana Syatiri


00.27 | 0 komentar | Read More

Tomik Subagio, 80 Tahun Masih Giat Membantu Sesama WNI

KOMPAS.com -- Dari penuturannya yang runtut dalam bahasa Indonesia, barangkali banyak orang tidak menyangka dia sudah tinggal di Australia selama lebih dari 50 tahun. Dari penampilan dan kesegaran wajahnya, tidak kentara usianya akan mencapai 80 tahun pada 7 Mei 2013. Itulah Tomik Subagio yang ditemui Kompas di kantornya di kawasan elit Adelaide, Unley Park, beberapa waktu lalu.

Pekerjaannya sebagai penerjemah, baik tulisan maupun lisan membuatnya harus runtut ketika berbicara dalam satu bahasa, entah itu bahasa Inggris ataupun bahasa Indonesia, tidak mencampuradukkannya seperti banyak orang yang merasa memahami kedua bahasa tersebut.

Menekuni profesi penerjemah sejak tahun 1990, Subagio banyak mengetahui "rahasia" warga Indonesia di Adelaide, dan juga warga di tempat lain.

Sampai saat ini, Subagio masih menjadi satu-satunya penerjemah lisan berlisensi untuk bahasa Indonesia-Inggris di Adelaide. Oleh karenanya, dia banyak menerima order untuk menerjemahkan dokumen-dokumen penting seperti surat kenal lahir, KTP, paspor bagi WNI yang harus melengkapi dokumen mereka untuk urusan izin tinggal dan hal-hal lain.

Subagio juga sering menjadi  penerjemah di pengadilan, maupun di rumah sakit secara lisan. "Menjadi penerjemah dalam kasus-kasus keluarga adalah pekerjaan paling berat bagi saya. Bukan karena apa yang harus diterjemahkan, tetapi karena isinya. Kasus, misalnya pembagian harta, atau masa perwalian anak, saya kadang ikut menangis mendengarkan pertengkaran mereka," ungkap ayah dari dua anak tersebut menceritakan suka dukanya selama lebih dari 30 tahun menjadi  penerjemah.

Setiap bulan, Subie, panggilan Subagio, rata-rata menterjemahkan sekitar 20-30 dokumen. Jadi dalam 30 tahun, paling sedikit 15.000 dokumen sudah lewat di tangannya untuk diterjemahkan.

Sebagai salah satu warga Indonesia paling senior di Adelaide, tidak heran, Subagio kadang menjadi rujukan bagi warga Indonesia lainnya. Banyak hubungan yang semula dimulai dari hubungan bisnis, kemudian menjadi hubungan pribadi dengan Subagio harus memberikan bantuan keuangan maupun bantuan lainnya.

"Kadang saya harus membantu mereka yang mengalami kesulitan keuangan. Tahun ini saja, saya membantu tiga keluarga dengan meminjamkan mereka uang senilai Rp 400 juta. Saya tentu masih berharap uang tersebut kembali tetapi kalau tidak, ya apa boleh buat," tuturnya sambil menunjukkan dokumen berisi penghitungan utang tersebut.

Ada juga WNI yang dibantunya untuk melanjutkan pendidikan, dengan biaya yang dikeluarkan dari kantong sendiri. Tahun lalu, seorang warga asal Riau mengalami kecelakaan ketika hendak menuju ke tempat kerja sebagai pemetik buah. Wanita tersebut mengalami luka serius di bagian otaknya. "Saya membantunya selama di rumah sakit dan juga kemudian di pusat rehabilitasi. Dia sempat kehilangan ingatan dan kemampuan berbahasa Inggris," kata Subagio.

Sekarang warga tersebut sedang dalam taraf penyembuan di Sydney, tinggal bersama sanak keluarganya, dan Subagio masih membantu uang saku 50 dolar untuk  perempuan muda tersebut.

Sering kali dia juga membantu menerjemahkan dokumen-dokumen berkenaan dengan perceraian, tanpa bayaran hanya untuk membantu WNI yang sedang menjalani proses tersebut.

Menurut Subagio, semua ini bisa terjadi karena istrinya, Janet, seorang wanita asli Australia, sangat mengerti dan berjiwa sosial, memahami perlunya usaha membantu sesama yang mengalami kesulitan.

Bersahabat dengan possum

Dilahirkan di Solo, orangtuanya memberi nama Subagio Nitipustoko, namun belakangan dia menambah namanya menjadi Tomik, dan juga menggunakan nama samaran Possum. "Nama Tomik bermula dari tokoh film koboi dari masa kecil, nama bintang filmnya Tom Mix , namun supaya lebih mudah dilafalkan, saya pake Tomik," kata Subagio.

Nama Possum berasal dari binatang sejenis tikus yang merupakan binatang khas Australia, semacam tupai. "Selama beberapa tahun, ada seekor possum yang selalu mendatangi kantor saya. Kami bersahabat," katanya sambil menunjukkan beberapa  gambar possum yang diambilnya.

Subagio datang ke Adelaide tahun 1955 sebagai mahasiswa di Universitas Adelaide. Sempat pulang ke Indonesia setelah selesai menjalani pendidikan menjadi insinyur teknik mesin tahun 1962. "Saya sebenarnya tidak berencana untuk tinggal dan hidup di Australia, saya kesini karena setelah menikah, saya memilih tinggal bersama istri," katanya.

Sebelum memutuskan tinggal di Australia, Subagio sempat bekerja selama lima tahun di Departemen Perindustrian Dasar dan Pertambangan di Jakarta. Ketika di sana, Subagio muda menghadapi dilema ibunya kala itu mengidap kanker mulut rahim. Di satu hari, Subagio mendapatkan pengalaman mistis, dia merasa diberi tahu agar nasib ibunya diserahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Oleh karena itu, Subagio kemudian memutuskan menetap di Adelaide, dengan istrinya, Janet Rosemary Melville dan mereka kemudian dikarunia dua anak, Bimo Subagio dan Ria Djuwita.

Sebagai insinyur mesin, Subagio kemudian bekerja di Departemen Teknik dan Pasok Air (Department of Engineering and Water Supply)  sampai pensiun tahun  1992. Keahliannya sebagai insinyur mesin masih ditekuninya setelah pensiun, dan menurutnya sebenarnya berpotensi menjadikannya  jutawan, tapi materi bukanlah tujuan utama hidupnya.

Ketika bekerja, Subagio menciptakan sebuah katup kupu-kupu (butterfly valve) untuk mengatur aliran air. Paten tersebut adalah atas nama Subagio, namun kepemilikannya diserahkan kepada departemen tempatnya bekerja. Hak paten itu menurutnya sampai sekarang sudah bernilai ratusan ribu dollar.

Dan setelah pensiun, Subagio mengatakan kesibukannya membantu orang-orang yang membutuhkan jasanya sebagai penerjemah menjadi salah satu faktor yang membuatnya "awet muda".

Hidup sehat

Sampai sekarang, untuk urusan transportasi, Subagio menggunakan sepeda. Kebiasaan bersepeda sudah dimulainya hampir 40 tahun lalu. Kota Adelaide yang tidak terlalu besar memungkinkan perjalanannya dengan sepeda dilakukan dengan gampang.

Hal lain dalam menjaga kesehatannya agar tetap prima adalah kebiasaannya untuk tidak menyantap daging yang terlalu banyak. "Saya bukan vegetarian, namun saya sedikit sekali makan daging. Kalau bisa juga menghindari lemak dan gula, dan banyak menyantap sayur dan buah-buahan," katanya mengenai menu sehari-hari yang disantapnya.

"Saya juga sekarang sudah tidur jam 6 sore, dan bangun jam 6 pagi, terus ke kantor menjermahkan kalau ada order atau ke pengadilan, ke rumah sakit atau ke kantor penerjemah di kota," tuturnya.

Walau sudah lama menetap di Australia, Tomik Subagio masih tetap memegang paspor Indonesia. "Tidak pernah satu saatpun saya berpikir atau berniat melepaskan  kewarganegaraan Indonesia. Indonesia tetap akan menjadi negeri saya," katanya.

Di tahun-tahun belakangan, memegang paspor Indonesia bukanlah hal yang mengenakkan bagi perjalanan internasional. "Memperpanjang paspor Indonesia beberapa tahun sekali bukanlah hal yang merepotkan buat saya," ujarnya.

Mengapa tidak pernah berpikir untuk menjadi warga Australia? "Rasa nasionalisme saya besar. Saya bisa ke Australia karena Indonesia merdeka, dan itu berkat jasa-jasa pahlawan dulu. Orang seperti Bung Karno dan lain-lain."

Sekarang di usianya yang senja, Subagio mengatakan bila meninggal nanti, dia akan dikuburkan di Australia saja. "Saya orangnya praktis. Saya tidak mau menyusahkan banyak orang, saya ingin dikubur di sini saja."


00.27 | 0 komentar | Read More

Sepekan, IHSG Hanya Naik 1,31 Persen

Written By bopuluh on Sabtu, 09 Maret 2013 | 23.27

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam perdagangan sepekan hanya menguat 62,88 poin (1,31 persen). Jumlah tersebut lebih rendah dari pekan sebelumnya yang mampu menguat 160,49 poin (3,45 persen).

Analis Trust Securities Reza Priyambada mengatakan kenaikan IHSG tersebut masih ditopang oleh kenaikan indeks regional dan global. Selain itu, sentimen positif dari kebijakan di negara regional dan global juga memicu penguatan IHSG ini.

"IHSG setiap pekan selalu berhasil mencapai posisi tertinggi terbarunya sepanjang masa. Karena IHSG sepertinya ingin mencoba menggapai langit berikutnya yang lebih tinggi," kata Reza di Jakarta, Minggu (10/3/2013).

Menurut Reza, mungkin banyak kalangan menilai bahwa IHSG sudah mencapai level tertingginya bahkan sudah mencapai area jenuh beli (overbought). Namun Reza menilai bahwa kondisi IHSG saat ini memang masih didukung oleh banyaknya sentimen positif, baik dari sisi internal maupun eksternal. Sehingga IHSG akan tetap bertahan di area overbought-nya dan mungkin akan merasa nyaman di zona hijaunya.

Bahkan dalam setiap analis teknikalnya, level support sudah menjadi resisten dan resisten bisa menjadi support tergantung dari tren yang dibentuk IHSG. "Kami lebih melihat kondisi riil di lapangan dimana selama IHSG masih didukung oleh banyaknya sentimen positif maka IHSG akan mencoba menggapai langit berikutnya," tambahnya.

Sepanjang pekan kemarin, meskipun terdapat aura profit taking, namun pelemahan hanya terjadi pada indeks keuangan yang turun 7,08 poin (1,08 persen). Di sisi lain, penguatan terjadi pada indeks properti (5,63 persen) indeks aneka industri (2,20 persen) dan indeks manufaktur (2 persen) serta indeks lainnya yang turut menghijau.

Diperkirakan, pekan depan IHSG akan berada pada rentang Support 4.735-4.828 dan Resisten 4.901-4.926. Setelah IHSG kembali menabrak dan melampaui target resisten dari Trust Securities di level 4.823-4.838, Reza akan kembali mencoba menaikkan target resisten selanjutnya. Nantinya akan dilihat kembali apakah IHSG mampu "menggapai langit berikutnya".

"Kembali kami mengingatkan jika nantinya target resisten tersebut gagal tercapai maka perlu diwaspadai potensi downreversal," tambahnya.

Terlihat bahwa sepanjang pekan kemarin, emiten-emiten yang telah diupload laporan keuangannya di website BEI ada sebanyak 14 emiten, di antaranya BBNI, SDRA, TLKM, KAEF, BAEK, BFIN, AALI, MERK dan sebagainya.

Dari rilis emiten tersebut, terlihat mayoritas kinerja keuangannya menunjukkan adanya peningkatan. Bahkan emiten seperti ELSA yang pendapatannya hanya naik tipis namun untuk downline-nya mampu menghasilkan peningkatan laba yang diatribusikan kepada pemilik dibandingkan dengan sebelumnya yang mengalami kerugian.

"Pencapaian yang lebih baik dari laporan keuangan emiten membuat penilaian terhadap sahamnya pun juga naik dan kondisi inilah yang menopang laju kenaikan IHSG," ungkapnya.

Editor :

Glori K. Wadrianto


23.27 | 0 komentar | Read More

Blanco Geram Latihan Tanpa Tim Medis

JAKARTA, KOMPAS - Pelatih tim nasional Indonesia, Luis Manuel Blanco dan asistennya, Marcos Conenna, geram karena tidak ada tim medis saat sesi latihan pagi di Lapangan C Senayan, Jakarta, Sabtu (9/3/2013). Blanco kecewa dengan kondisi itu saat Diego Michiels mengeluh nyeri di bagian pinggul, tetapi tidak ada dokter, fisioterapis, ataupun peralatan medis standar.

Cedera pemain bertahan itu hanya diolesi minyak gosok dan dipijit oleh seorang ofisial. Kondisi yang tidak ideal ini merupakan tanggung jawab Badan Tim Nasional.

Blanco tampak muram dan kesal ketika ditemui setelah latihan. Keningnya berkerut akibat panas sekaligus kesal. Pelatih asal Argentina itu menegaskan, latihan harus selalu didampingi oleh dokter dan tim medis.

"Dokter, tim medis, dan pemijat harus ada. Apalagi Senin pekan depan semua pemain sudah datang," tegas Blanco.

Diego mengalami nyeri di pinggul saat joging mengelilingi lapangan bersama lima pemain lain, yakni Anggi Yusuf, Mario Aibekop, Husin J Rahaningmas, Raphael Maitimo, dan Musafri.

Dokter tim nasional Syarif Alwi menjelaskan, dia belum bisa mendampingi pemain berlatih karena belum dikontrak resmi oleh Badan Tim Nasional. Dia masih dalam persiapan bergabung. Dokter senior itu juga belum mendapatkan kepastian kamar di hotel tim hingga Sabtu siang.

Okto dicoret

Sabtu kelabu berlanjut dengan keputusan Blanco mencoret sayap serang Oktovianus Maniani dari daftar seleksi pemain untuk melawan Arab Saudi di Pra-Piala Asia Australia 2015 pada 23 Maret. Blanco menilai Okto tidak disiplin dalam mengikuti jadwal latihan.

Pada sesi latihan Sabtu, Okto tidak mengikuti latihan tanpa keterangan kepada tim pelatih hingga sore hari. "Masalah disiplin merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar," tegas Blanco.

Okto beralasan, dia sakit perut akibat menyantap daging sapi dan kambing yang belum matang. Dia mengakui tidak memberi tahu tim pelatih.

Pada Sabtu pukul 17.20 WIB, saat latihan fisik di pusat kebugaran Hotel Sultan, Okto yang hendak mengikuti latihan diusir oleh asisten pelatih timnas Marcos Conenna, untuk segera meninggalkan hotel. Okto pun langsung bergegas berganti pakaian latihan timnas dengan pakaian biasa.

"Saya merasa tidak dihargai," ujar Okto. (K09/K14/K15/ANG)


23.27 | 0 komentar | Read More

Mayat Petambang Tertimbun Longsor dalam Posisi Duduk

Written By bopuluh on Jumat, 08 Maret 2013 | 23.27

Mayat Petambang Tertimbun Longsor dalam Posisi Duduk

Penulis : Kontributor Manado, Ronny Adolof Buol | Sabtu, 9 Maret 2013 | 14:11 WIB

MANADO, KOMPAS.com - Posisi kedua jenazah korban petambang di Desa Tatelu, Kecamatan Dimembe, Minahasa Utara, ditemukan dalam posisi sedang duduk berdekatan. Namun, proses evakuasi hingga Sabtu (9/3/2013) masih terus berlangsung karena medan yang sulit dan lubang yang sangat sempit.

Diperkirakan kedua korban berlindung ketika lubang yang mereka gali sedalam 30 meter longsor. Walau jenazah kedua korban sudah diketahui sejak 2 hari lalu, tetapi belum bisa dikeluarkan karena terhalang batu besar.

"Kami harus berusaha mengeluarkan batu itu dulu agar jenazah kedua korban bisa dievakuasi keluar. Sementara lubang di dalam sangat sempit dan rawan longsor," ujar Ian, salah satu petambang yang ikut menggali.

Diduga kedua korban tewas kehabisan oksigen karena lamanya proses penggalian. Saat ditemukan jenazah kedua korban sudah membusuk.

Arie Ratumbanua (31) dan Bryan Telew (21) terjebak dalam lubang penggalian emas sejak Jumat (1/3/2013). Tim Basarnas Manado dibantu warga dan para petambang tanpa henti berusaha menggali untuk menyelamatkan kedua petambang asal Desa Pinabetengan, Tompaso, Kabupaten Minahasa ini.

Sulitnya medan dan labilnya kondisi lokasi kejadian membuat upaya penyelamatan harus berjalan ekstra hati-hati. Hingga saat ini proses evakuasi masih terus berjalan.

Editor :

Ana Shofiana Syatiri


23.27 | 0 komentar | Read More

Henri Setiawan Tertinggi di Loncat Galah

Kejuaraan Atletik Jatim Terbuka 2013

Henri Setiawan Tertinggi di Loncat Galah

Penulis : MH Samsul Hadi | Sabtu, 9 Maret 2013 | 14:12 WIB

SIDOARJO, KOMPAS.com- Peloncat galah nasional asal Lampung, Henri Setiawan, merebut medali emas kejuaraan atletik Jatim Terbuka 2013 setelah membukukan loncatan tertinggi di Stadion Gelora Delta Putra, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (9/3/2013).

Ia meloncat mistar setinggi 4,65 meter atau 25 sentimeter lebih tinggi dari loncatan juara tahun lalu, yaitu legenda loncat galah Indonesia Nunung Jayadi.

Henri mencoba memperbaiki rekor pribadinya dengan mencoba 4,75 meter. Namun, dari tiga kali percobaan, ia gagal. Rekor lompatan pribadinya adalah 4,70 meter, yang ditorehkannya di SEA Games 2011.

Medali perak direbut juniornya di pelatnas dan juga rekan sesama atlet Lampung, Eko Wicaksono. Eko mencatat loncatan setinggi 4,50 meter. Seperti halnya Henri, ia juga berusaha memperbaiki rekor loncatan pribadinya dengan mencoba 4,65 meter. Namun, ia gagal dalam tiga kali percobaan.

Pemain pelatnas asal Ngawi, Dimas Pambudi, mendapatkan medali perunggu dengan loncatan 4,20 meter. Rekannya sesama atlet pelatnas, Arifin Golam, menempati peringkat keempat dengan loncatan 3,10 meter. Nomor loncat galah diikuti 10 dari 12 atlet peserta yang mendaftar.

Nunung Jayadi, juara tahun lalu, sebenarnya terdaftar dalam daftar peserta. Namun, atlet DKI Jakarta itu tidak hadir. Nunung, selain juara Jatim Terbuka tahun lalu lewat loncatan 4,40 meter, adalah pemegang rekor nasional loncat galah dengan catatan 5,13 meter yang dibuat pada 2002.

Editor :

Marcus Suprihadi


23.27 | 0 komentar | Read More

Yusril: Mahfud Tak Boleh Tanggapi Eksekusi Susno

Written By bopuluh on Kamis, 07 Maret 2013 | 23.27

JAKARTA, KOMPAS.com - Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra mengatakan, seorang hakim Mahkamah Konstitusi tidak boleh menanggapi harus atau tidaknya eksekusi terdakwa. Yusril menyikapi pernyataan Ketua MK Mahfud MD yang meminta mantan Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal (Purn) Susno Duadji untuk segera dieksekusi.

"Kalau memberi komentar, ini harus dieksekusi, itu bukan kewenangan MK. Hakim itu pasif, tidak boleh proaktif, tidak boleh mengomentari putusannya sendiri," ujar Yusril di kantornya, Jumat (8/3/2013).

Menurut Yusril, Susno tidak dapat dieksekusi karena putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Pengadilan Tinggi Jakarta tidak mencantumkan perintah penahanan untuk terdakwa. Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Pasal 197 KUHAP pada 22 November 2012, menurutnya, tidak jelas dan multitafsir sehingga menimbulkan kontroversi baru dan tidak ada kepastian hukum.

"Ini kesalahan negara dalam menjalankan hukum. Sampai kapan pun Mahfud akan saya lawan. Saya akan melakukan perlawanan secara akademik karena saya tidak berkuasa," kata Yusril.

Putusan MK pada 22 November 2012 menyatakan, sesuai Pasal 197 ayat (2) KUHAP jika dalam putusan pengadilan yang tidak mencantumkan Pasal 197 ayat (1) huruf k, maka putusan tidak batal demi hukum. Pasal 197 ayat (1) berbunyi perintah tahan, tetap dalam tahanan, atau dibebaskan.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan Susno bersalah dalam dua perkara korupsi, yakni kasus penanganan perkara PT Salmah Arowana Lestari (SAL) dan kasus dana pengamanan Pilkada Jawa Barat 2008. Dalam kasus PT SAL, Susno terbukti bersalah menyalahgunakan kewenangannya saat menjabat Kepala Bareskrim Polri dengan menerima hadiah sebesar Rp 500 juta untuk mempercepat penyidikan kasus tersebut.

Adapun dalam kasus Pilkada Jabar, Susno yang saat itu menjabat Kepala Polda Jabar dinyatakan bersalah memotong dana pengamanan sebesar Rp 4,2 miliar untuk kepentingan pribadi. Susno yang telah pensiun dari Polri Juli 2012 itu, mengajukan banding, tetapi ditolak oleh Pengadilan Tinggi Jakarta sehingga dia tetap dihukum 3 tahun 6 bulan penjara. Kasasi Susno pun ditolak MA pada 22 November 2012. Meski kasasi ditolak, Susno menyatakan dirinya tidak dapat dipenjara. Alasannya, dalam putusannya tidak tertulis masalah penahanan.

Editor :

Inggried Dwi Wedhaswary


23.27 | 0 komentar | Read More

Roy Suryo Berharap Tuah dari Jokowi

Roy Suryo Berharap "Tuah" dari Jokowi

Jumat, 8 Maret 2013 | 14:11 WIB

JAKARTA, Kompas.com -- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo berharap spirit kesuksesan pelaksanaan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Solo, 9 Juli 2011 terbawa ke kongres PSSI di Jakarta, 17 Maret.
     
"Makanya saya sowan ke Pak Jokowi karena ketika kongres di Solo berjalan mulus meskipun dua tiga hari sebelumnya ada riak-riak kecil," kata Roy Suryo usai bertemu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) di Balaikota, Jakarta, Jumat.

Menurut dia, KLB PSSI di Solo Jawa Tengah berjalan dengan baik sesuai dengan agenda yang ditetapkan yaitu pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Umum PSSI berikut dengan sembilan anggota Komite Eksekutif (Exco).

Dari KLB tersebut didapatkan Ketua Umum PSSI baru yaitu Djohar Arifin Husin serta Wakil Ketua Farid Rahmad. Sepasang pria ini resmi menggantikan posisi Nurdin Halid dan Nirwan Dermawan Bakrie yang sebelumnya mengendalikan federasi sepak bola Indonesia ini. "Pemerintah tugasnya hanya mengawal, jangan sama kita ikut mengarahkan. Kami berharap KLB ini berjalan dengan lancar dan sukses," kata Roy Suryo menambahkan.
      
Kedatangan Menpora Roy Suryo ke Gedung Balaikota dinilai cukup mengejutkan karena diluar sistem protokol. Hal tersebut diakui oleh politisi dari Partai Demokrat itu.  "Memang, awalnya banyak yang bilang ini diluar protokoler. Tapi kedatangan saya kesini cukup penting untuk membahas beberapa hal mulai rencana kongres PSSI hingga perkembangan relokasi stadion Lebakbulus," katanya.

 Lulusan Fisipol UGM itu mengaku guna memunculkan spirit kebersamaan dalam pelaksanaan KLB PSSI, pihaknya berharap ada nuansa tradisional terutama Betawi di lokasi pelaksanaan kongres yaitu Hotel Borobudur Jakarta.  "Nuansa tradisional diharapkan bisa membuat suasana kongres cair," kata pengganti Andi Mallarangeng itu.

Sementara itu Gubernur DKI Jakarta Jokowi berharap pelaksanaan KLB dengan agenda yang telah ditetapkan sebelumnya ini berjalan dengan lancar dan menghasilkan sebuah keputusan. "Dalam kongres nanti jangan di bangun suasana yg serius. Tapi di bangun suasana yang cair dan penuh nuasan kebudayaan," katanya usai bertemu dengan Menpora Roy Suryo.
     
KLB PSSI di Hotel Borobudur Jakarta merupakan arahan dari federasi sepak bola dunia atau FIFA. Jika hal ini tidak dilakukan sesuai dengan agenda yang ditetapkan maka Indonesia terancam sanksi tegas. Batas akhir penyelesaian polemik sepak bola Indonesia adalah 20 Maret nanti.

Editor :

A. Tjahjo Sasongko


23.27 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger